Ardyafani Webpage's











{December 3, 2011}  

Abjad Jawa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Aksara Jawa
Huruf-huruf dasar dalam aksara Jawa.
Informasi
Jenis aksara Abugida
Bahasa Jawa
Sunda (sebagai Cacarakan)
Periode sekitar abad ke-16 hingga sekarang
Arah penulisan Kiri ke kanan
Silsilah
Menurut hipotesis hubungan antara abjad Aramea dengan Brahmi, maka silsilahnya sebagai berikut:

Aksara kerabat Bali
Batak
Baybayin
Buhid
Hanunó’o
Lontara
Sunda Kuno
Rencong
Rejang
Tagbanwa
Baris Unicode U+A980U+A9DF
ISO 15924 Java, 361
Unicode alias Javanese
Perhatian: Halaman ini mungkin memuat simbol-simbol fonetis IPA menggunakan Unicode.

Hanacaraka atau dikenal dengan nama carakan atau cacarakan (bahasa Sunda) adalah aksara turunan aksara Brahmi yang digunakan atau pernah digunakan untuk penulisan naskah-naskah berbahasa Jawa, bahasa Makasar, bahasa Madura[rujukan?], bahasa Melayu[rujukan?] (Pasar), bahasa Sunda[1], bahasa Bali[rujukan?], dan bahasa Sasak[1].

Bentuk hanacaraka yang sekarang dipakai (modern) sudah tetap sejak masa Kesultanan Mataram (abad ke-17) tetapi bentuk cetaknya baru muncul pada abad ke-19. Aksara ini adalah modifikasi dari aksara Kawi dan merupakan abugida. Hal ini bisa dilihat dengan struktur masing-masing huruf yang paling tidak mewakili dua buah huruf (aksara) dalam huruf latin. Sebagai contoh aksara Ha yang mewakili dua huruf yakni H dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata “hari”. Aksara Na yang mewakili dua huruf, yakni N dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata “nabi”. Dengan demikian, terdapat penyingkatan cacah huruf dalam suatu penulisan kata apabila dibandingkan dengan penulisan aksara Latin.

Daftar isi

[sembunyikan]

[sunting] Klasifikasi

Prasasti modern dengan aksara Latin (bahasa Portugis) dan aksara Hanacaraka/Jawa modern (bahasa Jawa). Prasasti dibuat untuk memperingati pemugaran Taman Sari di komplek Kraton Yogyakarta.

Aksara Jawa Hanacaraka termasuk ke dalam kelompok turunan aksara Brahmi, sebagaimana semua aksara Nusantara lainnya. Aksara ini memiliki kedekatan dengan aksara Bali. Aksara Brahmi sendiri merupakan turunan dari aksara Assyiria.

[sunting] Kelompok aksara

Pada bentuknya yang asli, aksara Jawa Hanacaraka ditulis menggantung (di bawah garis), seperti aksara Hindi. Namun demikian, pengajaran modern sekarang menuliskannya di atas garis.

Aksara hanacaraka Jawa memiliki 20 huruf dasar, 20 huruf pasangan yang berfungsi menutup bunyi vokal, 8 huruf “utama” (aksara murda, ada yang tidak berpasangan), 8 pasangan huruf utama, lima aksara swara (huruf vokal depan), lima aksara rekan dan lima pasangannya, beberapa sandhangan sebagai pengatur vokal, beberapa huruf khusus, beberapa tanda baca, dan beberapa tanda pengatur tata penulisan (pada).

[sunting] Huruf dasar (aksara nglegena)

Pada aksara Jawa hanacaraka baku terdapat 20 huruf dasar (aksara nglegena), yang biasa diurutkan menjadi suatu “cerita pendek”:

Aksara nglegena
Javanese script - Ha.png

Ha

Javanese script - Na.png

Na

Javanese script - Ca.png

Ca

Javanese script - Ra.png

Ra

Javanese script - Ka.png

Ka

Javanese script - Da.png

Da

Javanese script - Ta.png

Ta

Javanese script - Sa.png

Sa

Javanese script - Wa.png

Wa

Javanese script - La.png

La

Javanese script - Pa.png

Pa

Javanese script - Dha.png

Dha

Javanese script - Ja.png

Ja

Javanese script - Ya.png

Ya

Javanese script - Nya.png

Nya

Javanese script - Ma.png

Ma

Javanese script - Ga.png

Ga

Javanese script - Ba.png

Ba

Javanese script - Tha.png

Tha

Javanese script - Nga.png

Nga

[sunting] Huruf pasangan (Aksara pasangan)

Pasangan dipakai untuk menekan vokal konsonan di depannya. Sebagai contoh, untuk menuliskan mangan sega (makan nasi) akan diperlukan pasangan untuk “se” agar “n” pada mangan tidak bersuara. Tanpa pasangan “s” tulisan akan terbaca manganasega (makanlah nasi).

Tatacara penulisan Jawa Hanacaraka tidak mengenal spasi, sehingga penggunaan pasangan dapat memperjelas kluster kata.

Berikut ini adalah daftar pasangan:

Aksara pasangan
Pasangan Ha.png

Ha

Pasangan Na.png

Na

Pasangan Ca.png

Ca

Pasangan Ra.png

Ra

Pasangan Ka.png

Ka

Pasangan Da.png

Da

Pasangan Ta.png

Ta

Pasangan Sa.png

Sa

Pasangan Wa.png

Wa

Pasangan La.png

La

Pasangan Pa.png

Pa

Pasangan Dha.png

Dha

Pasangan Ja.png

Ja

Pasangan Ya.png

Ya

Pasangan Nya.png

Nya

Pasangan Ma.png

Ma

Pasangan Ga.png

Ga

Pasangan Ba.png

Ba

Pasangan Tha.png

Tha

Pasangan Nga.png

Nga

[sunting] Huruf utama (aksara murda)

Pada aksara hanacaraka memiliki bentuk murda (hampir setara dengan huruf kapital) yang seringkali digunakan untuk menuliskan kata-kata yang menunjukkan nama gelar, nama diri, nama geografi, nama lembaga pemerintah, dan nama lembaga berbadan (Kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang menunjukkan hal-hal diatas biasanya diawali dengan huruf besar atau kapital. Untuk itulah pada perangkat lunak ini kita gunakan huruf kapital untuk menuliskan aksara murda atau pasangannya)

Berikut ini adalah aksara murda serta pasangan murda:

Aksara murda
Javanese script - Na (M).png

Na murda

Javanese script - Ka (M).png

Ka murda

Javanese script - Ta (M).png

Ta murda

Javanese script - Sa (M).png

Sa murda

Javanese script - Pa (M).png

Pa murda

Javanese script - Nya (M).png

Nya murda

Javanese script - Ga (M).png

Ga murda

Javanese script - Ba (M).png

Ba murda

Pasangan
Pasangan Na (M).png

Na murda

Pasangan Ka (M).png

Ka murda

Pasangan Ta (M).png

Ta murda

Pasangan Sa (M).png

Sa murda

Pasangan Pa (M).png

Pa murda

Pasangan Nya (M).png

Nya murda

Pasangan Ga (M).png

Ga murda

Pasangan Ba (M).png

Ba murda

[sunting] Huruf Vokal Mandiri (aksara swara)

Aksara swara
Javanese script - A.png

A

Javanese script - E.png

E

Javanese script - I.png

I

Javanese script - O.png

O

Javanese script - U.png

U

[sunting] Huruf tambahan (aksara rèkan)

Aksara rèkan
Javanese script - Gha.png

Gha

Javanese script - Fa.png

Fa / Va

Javanese script - Kha.png

Kha

Javanese script - Dza.png

Dza

Javanese script - Za.png

Za

[sunting] Huruf Vokal tidak Mandiri (sandhangan)

Nama Sandhangan Aksara Jawa Keterangan
Wulu
Javanese script - Wulu.png
tanda vokal i
Suku
Javanese script - Suku.png
tanda vokal u
Taling
Javanese script - Taling.png
tanda vokal é
Pepet
Javanese script - Pepet.png
tanda vokal e
Taling Tarung
Javanese script - Taling tarung.png
tanda vokal o
Layar
Javanese script - Layar.png
tanda ganti konsonan r
Wignyan
Javanese script - Wignyan.png
tanda ganti konsonan h
Cecak
Javanese script - Cecak.png
tanda ganti konsonan ng
Pangkon
Javanese script - Pangkon.png
tanda penghilang vokal
Péngkal
Javanese script - Pengkal.png
tanda ganti konsonan ya
Cakra
Javanese script - Cakra.png
tanda ganti konsonan ra
Cakra keret
Javanese script - Cakra keret.png
tanda ganti konsonan re

[sunting] Tanda-tanda Baca (pratandha)

Pratandha.png

[sunting] Gaya Penulisan (Style, Gagrag) Aksara Jawa

Berdasarkan Bentuk aksara Penulisan aksara Jawa dibagi menjadi 3 yakni:

  • Ngetumbar

Aj-ngtmbr.png

  • Mbata Sarimbag

Aj-bs.png

  • Mucuk eri

Berdasarkan Daerah Asal Pujangga/Manuskrip, dikenal gaya penulisan aksara Jawa :

  • Jogjakarta

Aj-jogja.png

  • Surakarta

Aj-solo.png

  • Lainnya

Aj-ngtmbr.png

[sunting] Aturan baku penggunaan hanacaraka

Penggunaan (pengejaan) hanacaraka pertama kali dilokakaryakan pada tahun 1926 untuk menyeragamkan tata cara penulisan menggunakan aksara ini, sejalan dengan makin meningkatnya volume cetakan menggunakan aksara ini, meskipun pada saat yang sama penggunaan huruf arab pegon dan huruf latin bagi teks-teks berbahasa Jawa juga meningkat frekuensinya. Pertemuan pertama ini menghasilkan Wewaton Sriwedari (“Ketetapan Sriwedari”), yang memberi landasan dasar bagi pengejaan tulisan. Nama Sriwedari digunakan karena lokakarya itu berlangsung di Sriwedari, Surakarta. Salah satu perubahan yang penting adalah pengurangan penggunaan taling-tarung bagi bunyi /o/. Alih-alih menuliskan “Ronggawarsita” (bentuk ini banyak dipakai pada naskah-naskah abad ke-19), dengan ejaan baru penulisan menjadi “Ranggawarsita”, mengurangi penggunaan taling-tarung.

Modifikasi ejaan baru dilakukan lagi tujuh puluh tahun kemudian, seiring dengan keprihatinan para ahli mengenai turunnya minat generasi baru dalam mempelajari tulisan hanacaraka. Kemudian dikeluarkanlah Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga gubernur (Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur) pada tahun 1996 yang berusaha menyelaraskan tata cara penulisan yang diajarkan di sekolah-sekolah di ketiga provinsi tersebut.

Tonggak perubahan lainnya adalah aturan yang dikeluarkan pada Kongres Basa Jawa III, 15-21 Juli 2001 di Yogyakarta. Perubahan yang dihasilkan kongres ini adalah beberapa penyederhanaan penulisan bentuk-bentuk gabungan (kata dasar + imbuhan).

[sunting] Perubahan Aksara Pallawa ke Aksara-Aksara Nusantara

Perubahan Aksara Pallawa

[sunting] Perbandingan aksara Jawa dan aksara Bali

Hanacaraka gaya Jawa, aksara-aksara dasar
Hanacaraka gaya Bali, aksara-aksara dasar
Hanacaraka gaya Jawa, aksara-aksara dasar Hanacaraka gaya Bali, aksara-aksara dasar

[sunting] Penulisan Aksara Jawa dalam Cacarakan Sunda

Cacarakan.png
Ada sedikit perbedaan dalam Cacarakan Sunda dimana aksara “Nya” dituliskan dengan menggunakan aksara “Na” yang mendapat pasangan “Nya”. Sedangkan Aksara “Da” dan “Tha” tidak digunakan dalam Cacarakan Sunda. Juga ada penambahan aksara Vokal Mandiri “É” dan “Eu”, sandhangan “eu” dan “tolong”

[sunting] Penggunaan aksara Hanacaraka

Bahasa Jawa dalam huruf Jawa dipakai pada papan nama jalan di Surakarta.

Aksara hanacaraka masih diajarkan di sekolah-sekolah di wilayah berbahasa Jawa sampai sekarang [2] (Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta), sebagai bagian dari muatan lokal dari kelas 3 hingga kelas 5 SD.[3] Walaupun demikian, penggunaannya dalam surat-surat resmi/penting, surat kabar, televisi, media luar ruang, dan sebagainya sangatlah terbatas dan terdesak oleh penggunaan alfabet Latin yang lebih mudah diakses. Beberapa surat kabar dan majalah lokal memiliki kolom menggunakan aksara Jawa. Penguasaan aksara ini dianggap penting untuk mempelajari naskah-naskah lama, tetapi tidak terlihat usaha untuk menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari. Usaha-usaha revivalisasi bersifat simbolik dan tidak fungsional, seperti pada penulisan nama jalan atau kampung. Salah satu penghambatnya adalah tidak adanya usaha ke arah pengembangan ortografi/tipografi aksara ini.[3]

[sunting] Integrasi Hanacaraka ke dalam sistem informasi komputer

Usaha-usaha untuk mengintegrasikan aksara ini ke sistem informasi elektronik telah dilakukan sejak 1983 oleh peneliti dari Universitas Leiden (dipimpin Willem van der Molen). Integrasi ini diperlukan agar setiap anggota aksara Jawa memiliki kode yang khas yang diakui di seluruh dunia.

Jeroen Hellingman mengajukan proposal untuk mendaftarkan aksara ini ke Unicode pada pertengahan tahun 1993 dan Maret 1998. Selanjutnya, Jason Glavy membuat “font” aksara Jawa yang diedarkan secara bebas sejak 2002 dan mengajukan proposal pula ke Unicode. Di Indonesia Yanis cahyono membuat font aksara jawa pada tahun 2001 yang diberi nama aljawi sekaligus software installernya [4],hampir bersamaan disusul Ermawan Pratomo membuat hanacaraka font pada tahun 2001, Teguh Budi Sayoga pada tahun 2004 telah pula membuat suatu font aksara Jawa untuk Windows (disebut “Hanacaraka”) berdasarkan ANSI[2]. Matthew Arciniega membuat screen font untuk Mac pada tahun 1992 dan ia namakan “Surakarta”.[5] Yang terbaru adalah yang digarap oleh Bayu Kusuma Purwanto (2006), yang dapat diekspor ke dalam html.

Baru sejak awal 2005 dilakukan usaha bertahap yang nyata untuk mengintegrasikan aksara Jawa ke dalam Unicode setelah Michael Everson membuat suatu code table sementara untuk didaftarkan. Kelambatan ini terjadi karena kurangnya dukungan dari masyarakat pengguna aksara ini. Baru semenjak masa ini mulai terhimpun dukungan dari masyarakat pengguna. Aksara Jawa Hanacaraka saat ini telah dirilis dalam Unicode versi 5.2 (tergabung dalam Amandemen 6) yang keluar pada tanggal 1 Oktober 2009.[6] Alokasi Memori Aksara Jawa (Javanese) pada Unicode 5.2.0 adalah di alamat heksadesimal A980 sampai dengan A9DF (desimal: 43392–43487).

Search Wikibooks Wikibooksmemiliki buku bertajuk

[sunting] Catatan kaki

  1. ^ a b Everson M. 2008. Proposal for encoding the Javanese script in the UCS. Project Report.
  2. ^ Bahasa Jawa? Ih, “Boring” Banget. Kompas daring 25-09-2006. Diakses 6-5-2009.
  3. ^ a b Abdul Wahab. Masa depan bahasa, sastra, dan aksara daerah. Nawala.
  4. ^ [1] download
  5. ^ Downloadable Surakarta fonts by M. Arciniega.
  6. ^ Unicode 5.2.0

[sunting] Pranala luar

Search Wikimedia Commons Wikimedia Commons memiliki kategori mengenai Hanacaraka
[sembunyikan]

l • b • s

Hanacaraka (aksara Jawa)

Aksara nglegena (huruf dasar)
Aksara murda
(Huruf kapital)
Aksara swara
(Huruf vokal)
A

A

A

I

I

I

U

U

U

E

E

E

O

O

O

Aksara rékan
(Huruf tambahan)
Aksara gantén
(Huruf pengganti)
[tampilkan]

Sandhangan (Tanda diakritik)

Sandhangan swara
Sandhangan panyigeg
Aksara mandraswara
[tampilkan]

Pada (Tanda baca)

Hanacaraka

Daripada Wikipedia, ensiklopedia bebas.
Lompat ke: pandu arah, cari

“Wikipedia” dalam tulisan Jawa

Hanacaraka (juga dikenali sebagai tulisan Jawa atau abjad Jawa) ialah suatu sistem tulisan abjad suku kata yang digunakan oleh orang Jawa untuk menulis dalam bahasa Jawa. Ia juga digunakan di Bali, Sunda, dan Madura. Bahkan ditemukan pula surat-surat dalam bahasa Melayu yang menggunakan tulisan Hanacaraka. Tulisan ini berasal daripada tulisan kawi yang mempunyai asal-usul dari tulisan Brahmi di India.

Hanacaraka dinamakan sedemikian kerana lima huruf pertamanya membentuk sebutan “ha-na-ca-ra-ka”. Hanacaraka juga boleh merujuk kepada kelompok sistem tulisan yang berkait rapat dengan tulisan Jawa dan menggunakan susunan abjad yang sama, iaitu tulisan Jawa sendiri, tulisan Bali dan tulisan Sunda.

Tulisan Jawa muncul pada sekitar kurun ke-9. Namun begitu, penggunaannya dihentikan pada tahun 1942 ketika Jepun menyerbu Jawa dan digantikan dengan tulisan Rumi sebagai tulisan rasmi Republik Indonesia.

Isi kandungan

[sorokkan]

[sunting] Lagenda Hanacaraka

Abjad Jawa dikaitkan dengan Hanacaraka, sebuah lagenda mengenai dua orang pahlawan bernama Dora dan Sambada yang bertarung. Keduanya adalah hamba Raja Aji Saka.

Terdapat 20 huruf dalam abjad Jawa, yang mana boleh disingkatkan kepada kata “hana caraka, data sawala, padha jayanya, maga bathanga“, dalam bahasa Jawa bermaksud “dua utusan, mereka berbalah, dua-dua sama hebat, dua-dua mati”. Dari segi harfiah:

hana = ada
caraka = utusan
data = datang
sawala = menentang
padha = sama-sama
jayanya = hebat
maga = menjadi
bathanga = batang (mayat)
  • hana caraka

  • data sawala

  • padha jayanya

  • maga bathanga

Lagenda ini diceritakan kepada kanak-kanak yang baru belajar abjad Jawa untuk hiburan dan memudahkan ingatan.

[sunting] Abjad

[sunting] Huruf

Tulisan Jawa merupakan abjad suku kata, bermakna bahawa setiap unit terkecil (huruf) adalah suku kata (terdiri daripada satu bunyi konsonan dan satu bunyi vokal iringan). Suku kata ini boleh diubah suai dengan tanda-tanda yang dinamakan oleh orang Jawa sebagai sandhangan.

Terdapat 20 huruf asas dalam abjad Jawa:

Jawa Ha.pngha Jawa Na.pngna Jawa Ca.pngca Jawa Ra.pngra Jawa Ka.pngka Jawa Da.pngda Jawa Ta.pngta Jawa Sa.pngsa Jawa Wa.pngwa Jawa La.pngla
Jawa Pa.pngpa Jawa Dha.pngdha Jawa Ja.pngja Jawa Ya.pngya Jawa Nya.pngnya Jawa Ma.pngma Jawa Ga.pngga Jawa Ba.pngba Jawa Tha.pngtha Jawa Nga.pngnga

[sunting] Pasangan

Pasangan membolehkan penggabungan beberapa konsonan untuk membentuk suku kata baru. Contohnya, na dan pasangan da boleh digabungkan untuk membentuk suku kata nda. Setiap huruf asas Jawa mempunyai pasangannya yang ditulis di bawah atau sejajar dengan huruf berikutnya.

Berikut ialah senarai pasangan bagi huruf asas Jawa:

Jawa Ha Pasangan.pngha Jawa Na Pasangan.pngna Jawa Ca Pasangan.pngca Jawa Ra Pasangan.pngra Jawa Ka Pasangan.pngka Jawa Da Pasangan.pngda Jawa Ta Pasangan.pngta Jawa Sa Pasangan.pngsa Jawa Wa Pasangan.pngwa Jawa La Pasangan.pngla
Jawa Pa Pasangan.pngpa Jawa Dha Pasangan.pngdha Jawa Ja Pasangan.pngja Jawa Ya Pasangan.pngya Jawa Nya Pasangan.pngnya Jawa Ma Pasangan.pngma Jawa Ga Pasangan.pngga Jawa Ba Pasangan.pngba Jawa Tha Pasangan.pngtha Jawa Nga Pasangan.pngnga

[sunting] Aksara murda

Sesetengah huruf dalam abjad Jawa mempunyai bentuk khas yang dipanggil aksara murda. Seperti kegunaan huruf besar dalam abjad Rumi, aksara murda digunakan sebagai tanda kesantunan, contohnya dalam nama gelaran, nama orang, nama tempat, dan nama pemerintah. Berikut ialah senarai aksara murda, berserta pasangan:

Jawa Na Murda.pngJawa Na Murda Pasangan.pngNa Jawa Ka Murda.pngJawa Ka Murda Pasangan.pngKa Jawa Ta Murda.pngJawa Ta Murda Pasangan.pngTa Jawa Sa Murda.pngJawa Sa Murda Pasangan.pngSa Jawa Pa Murda.pngJawa Pa Murda Pasangan.pngPa Jawa Ga Murda.pngJawa Ga Murda Pasangan.pngGa Jawa Ba Murda.pngJawa Ba Murda Pasangan.pngBa

[sunting] Aksara swara

Aksara swara (huruf vokal) ialah huruf khas yang berfungsi sebagai huruf vokal yang menjadi suku kata. Ia biasanya digunakan pada kata asing. Aksara swara tidak mempunyai pasangan. Berikut ialah senarai aksara swara:

Jawa A.pnga Jawa Ae.pnge Jawa E.pngé Jawa I.pngi Jawa O.pngo Jawa U.pngu

Perhatikan bahawa huruf e dibina menggunakan a dan pepet (lihat sandhangan swara).

[sunting] Aksara rékan

Aksara rékan (huruf rekaan) ialah huruf-huruf yang ditambah untuk menampung penyerapan kata-kata Arab. Huruf-huruf ini dicipta dengan menambah cecak telu (tiga titik) pada huruf-huruf yang sedia ada. Terdapat tujuh aksara rékan, masing-masing mempunyai pasangan:

kha, dza, gha, fa, za, sya, sha

[sunting] Huruf-huruf lain

Antara huruf-huruf lain yang terdapat dalam abjad Jawa ialah:

Jawa Pa Cerek.png pa cerek – untuk bunyi re /rǝ/
Jawa Nga Lelet.png nga lelet – untuk bunyi le /lǝ/

[sunting] Sandhangan

Sandhangan ialah tanda yang mengubah bunyi suku kata. Terdapat bermacam-macam jenis sandhangan dalam tulisan Jawa. Sandhangan terbahagi kepada tiga kategori:

  • sandhangan swara
  • sandhangan panyigeging wanda
  • sandhangan wyanjana

[sunting] Sandhangan swara

Sandhangan swara ialah tanda yang bertindak sebagai “baris” kepada suku kata. Ia digunakan untuk membatalkan bunyi asal /a/ dalam suku kata dan menggantikannya dengan vokal lain, umpamanya /i/ dan /u/. Terdapat lima jenis sandhangan swara:

Jawa Wulu.png wulu – untuk bunyi /i/
Jawa Suku.png suku – untuk bunyi /u/
Jawa Pepet.png pepet – untuk bunyi /ǝ/
Jawa Taling.png taling – untuk bunyi /e/
Jawa Taling Tarung.png taling tarung – untuk bunyi /o/

Contohnya, ha dengan wulu menghasilkan suku kata /hi/.

[sunting] Sandhangan panyigeging wanda

Sandhangan panyigeging wanda digunakan untuk mengakhiri suku kata dengan bunyi konsonan.

Jawa Layar.png layar – untuk bunyi /r/
Jawa Wignyan.png wignyan – untuk bunyi /h/
Jawa Cecak.png cecak – untuk bunyi ng /ŋ/
Jawa Pangkon.png patèn atau pangkon – untuk ‘membunuh’ bunyi pada sebuah huruf-huruf lainnya.

Contohnya, ha dengan layar menghasilkan suku kata /har/, kemudian ha dengan wignyan menghasilkan suku kata /hah/, lalu ha dengan cecek mengahasilkan suku kata /haŋ/. Lalu ha dan na dengan patèn menghasilkan suku kata /han/. Sementara itu ha, ra dan nga tidak boleh diikuti dengan patèn.

[sunting] Sandhangan wyanjana

Sandhangan wyanjana digunakan untuk menggabungan bunyi konsonan.

Jawa Cakra.png cakra – untuk bunyi /r/
Jawa Keret.png cakra keret – untuk bunyi /re/, sebagai pengganti gabungan cakra dan pepet
Jawa Pengkal.png péngkal – untuk bunyi /y/

Contohnya, ka dengan cakra menghasilkan suku kata kra.

Beberapa sandhangan dari kategori yang berbeza boleh digabungkan sekali untuk menghasilkan suku kata yang lebih rumit. Contohnya, ka, wulu, cakra dan cecak boleh digabungkan untuk menghasilkan suku kata /kriŋ/ (“kring”).

[sunting] Angka

Angka dalam tulisan Jawa menggunakan sistem nombor perpuluhan.

Jawa 1.png1 Jawa Nga Lelet.png2 Jawa 3.png3 Jawa 4.png4 Jawa 5.png5 Jawa E.png6 Jawa 7.png7 Jawa Pa Murda.png8 Jawa Ya.png9 Jawa 0.png0

[sunting] Tanda baca

Jawa Adeg Adeg.png adeg adeg – penanda awal ayat
Jawa Pada Lingsa.png pada lingsa – sama seperti fungsi koma
Jawa Pada Lungsi.png pada lungsi – sama seperti fungsi noktah
Jawa Pada Pangkat.png pada pangkat – mengapit angka dan petikan kata

[sunting] Contoh

Tulisan Jawa pada sebuah tanda di Tamansari, Yogyakarta

Sebuah manuskrip purba dalam tulisan Jawa

Sebuah papan tanda di Surakarta

[sunting] Lihat juga

Sumber dari :

http://id.wikipedia.org/wiki/Hanacaraka and

http://ms.wikipedia.org/wiki/Hanacaraka



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

et cetera
%d bloggers like this: